Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

Tugas Resensi Buku



Judul Buku : Meraup Laba dari Lidah Buaya
                                                 Penulis Buku : Ir. Ajat Jatnika M.Sc. dan Ir. Saptoningsih M.P.
Nama Penerbit : AgroMedia Pustaka
Cetakan : Cetakan pertama
Tahun Terbit : 2009
Harga : Rp. 27.000
ISBN : 9790062672
Tebal Buku : 120 halaman

Lidah buaya merupakan tanaman yang bermanfaat. Berbagai macam sektor industri membutuhkan lidah buaya sebagai bahan baku, di antaranya industri farmasi, kosmetika, serta produk olahan makanan dan minuman. Ada banyak cara untuk mendapatkan keuntungan dari lidah buaya, yakni dengan membudidayakannya dan membuat berbagai macam produk olahannya.
Sebenarnya, memanfaatkan lidah buaya tidak begitu susah, namun jika kita tidak serius mengerjakannya, hasilnya akan gagal. Buku ini mengajarkan ke semua orang bahwa sebenarnya budi daya lidah buaya tidak terlalu sulit jika kita melakukannya dengan benar.  Dan juga, bisnis ini juga menguntungkan karena dengan modal yang tidak begitu besar, kita bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dari jumlah modal.
Buku ini memaparkan berbagai hal yang menyangkut lidah buaya, mulai dari informasi mengenai manfaat lidah buaya, sistem budi daya (konvensional dan hidroponik), pemeliharaan tanaman, pemanenan, pengolahan produk, hingga aspek pemasarannya. Buku ini dilengkapi juga dengan prospek laba dan analisis usaha berbisnis lidah buaya, baik budi daya maupun produk olahannya.
Buku ini juga berisi hal-hal mengenai cara pembudidayaan lidah buaya dengan menggunakan Sistem Konvensional dan Sistem Hidroponik. Keunggulan dari Sistem Konvensional yaitu pembudidayaannya tidak banyak memakan biaya dan hanya memerlukan lahan yang luas. Sedangkan, keunggulan Sistem Hidroponik yaitu pemeliharaan lebih mudah, proses budi daya menjadi lebih bersih dan steril, serta tanaman lebih sehat dan produktivitasnya lebih tinggi.
Isi buku ini sudah cukup lengkap, mulai dari jenis tanaman, cara pembudidayaan, pengolahan, hingga aspek pemasaran. Buku ini juga disertai gambar-gambar agar pembaca lebih memahami pokok bahasan yang dibaca, serta bahasa yang digunakan mudah dimengerti dan dipahami, sehingga itu menjadi kelebihan dari buku ini.
Namun, saya merasa buku ini memiliki kekurangan, seperti tidak adanya pembahasan pada awal bab yang berguna untuk memberikan penjelasan mengenai pokok bahasan yang sedang dibaca. Dan juga di buku ini tidak ada pembahasan mengenai manfaat dari tanaman lidah buaya tersebut secara rinci.
Dengan harga buku yang tidak begitu mahal, buku ini mungkin bisa diterima olehmasyarakat. Isi yang cukup lengkap, dan juga disertai ilustrasi agar pembaca tidak bosan membaca buku ini menjadi poin plus untuk buku ini. Tetapi, seharusnya penulis menambahkan pembahasan pada bab awal, agar tidak menyulitkan orang yang baru kenal dengan lidah buaya. Saya rasa, buku ini cocok dibaca oleh orang yang ingin berbisnis dengan modal sedikit, karena kita bisa meraupkeuntungan yang besar dengan modal yang kecil.


Selasa, 31 Maret 2015

Pria Metroseksual


            Pria metroseksual adalah sebuah istilah baru, merupakan sebuah singkatan dari istilah metropolitan dan heteroseksual. Istilah ini dikenal pada tahun 1994. Pria metroseksual merupakan sebuah gaya hidup laki-laki yang hidup di kota-kota besar, dimana bagi mereka penampilan merukan sesuatu yang penting bagi mereka. Sayangnya pria metroseksual sering dikaitkan oleh masyarakat dengan kaum pria homoseksual. Mesekipun dia bukanlah seorang homoseksual.
            Pria metroseksual selalu update tentang teknologi dan fashion yang sedang berkembang di dunia, berpenampilan trendy, senang memanjakan dirinya, dan selalu memperhatikan penampilan dirinya.  Pria metroseksual, pria lajang belia  dengan pendapatan berlebihan.
            Apa yang membuat seorang pria menjadi metroseksual?. Tentu seorang pria tidak menjadi seorang metroseksual secara otomatis atau disebabkan bawaan genetis. Pasti ada pengaruh dari luar. Yang berperan untuk mempengaruhi atau membentuk pola pikir (mindset) atau sudut pandang (point of view) gendernya, yang adalah agen sosialisasi gender. Masalah mengenai agen sosialisasi gender yang mempengaruhinya berkaitan dengan feminisme, Masuknya wanita dalam sektor pekerjaanlah yang secara tidak langsung metroseksual. Tempat bekerja ditenggarai sebagai agen sosialisasi gender yang secara tidak langsung mensosialisasikan metroseksualisme. Namun hanya tempat bekerja yang formal dan terdapat di perkotaanlah yang secara tidak langsung mensosialisasikan metroseksualisme.
            Metroseksual adalah hasil dari kesetaraan gender  karena metroseksual timbul dari produk kesetaraan gender pula yaitu emansipasi wanita. Emansipasi wanita yang meluas keseluruh dunia disusul dengan meluasnya fenomena metroseksual. Akibat emansipasi wanita, interaksi antara wanita dengan pria menjadi sangat intens sehingga pria secara psikologis terpengaruh oleh kecenderungan wanita yang memperhatikan penampilannya. Selain itu disisi lain emansipasi menimbulkan ketidak setaraan gender baru, yang kali ini dialami kaum laki – laki pada sebagian masyarakat. Sehingga laki – laki bisa mengalami disorientasi yang mengacu pada metroseksualisme.

Senin, 10 November 2014

Perencanaan Karangan



 I
1.      Hakikat perencanaan karangan:
a.       Proses kreatif
b.      Menentukan jenis karangan
c.       Perencanaan karangan

2.       Mengarang merukan proses kreatif: karena setiap penulisan menghendaki adanya pemikiran sendiri dengan sungguh-sungguh, semangat, dan serius.
3.       Jenis-jenis karangan ilmiah:
a.       Makalah
b.      Artikel jurnal
c.       Proposal
d.      Laporan Ilmiah
4.       Tahapan penyusunan karangan:
a.       Prapenulisan
b.      Penulisan
c.       Penyuntingan
d.      Penulisan naskah yang sudah sempurna
e.      Presentasi
5.       Syarat-syarat topik yang baik:
a.       Topik yang baik dengan penulis
b.      Topik yang baik dengan pembaca
6.       Perbedan topik dan judul:
a.       Topik adalah ide sentral yang berfungsi mengikat keseluruhan uraian, deskripsi,  penjelasan, dan seluruh pembuktian.
b.      Judul adalah pokok pembicaraan dalam keseluruhan karangan yang akan dibahas.
7.       Syarat-syarat kalimat tesis:
a.       Berisi gabungan rumusan topik dan tujuan
b.      Penekanan topik sebagai suatu ungkapan pikiran
c.       Pembatasan dan ketetapan rumusan
d.      Berupa kalimat lengkap terdapat subjek dan predikat
e.      Menggunakan kata khusus dan denotatif
f.        Berupa pernyataan positif-bukan kalimat tanya, bukan kalimat seru, dan bukan kalimat negatif
g.       Dapat mengarahkan, mengembangkan, dan mengendalikan penulisan, dan dapat diukur dan dibuktikan kebenaranya
8.       Lengkapi tesis berikut:
1)      Topik: kreativitas baru produksi pangan dari singkong.
Judul: membuktikan bahwa bahan baku singkong dapat diolah dalam berbargai jenis pangan yang dapat dijadikan komoditas ekspor.
Tesis: Kreativitas produksi pangan dari singkong membuktikan bahan baku singkong dapat diolah dan jadi komoditas ekspor.

2)      Tesis: efesien sumber daya ekonomi akan menghasilkan produk sepatu tangguh berdaya saing tinggi di pasar Internasional.
Topik: efesiensi sumber daya produk sepatu
Tujuan: membuktikan efesiensi sumber daya dapat menghasilkan produk tangguh berdaya saing di pasar Internasional

II


1. b. Lisan Ilmiah
2. a. Penyimpangan sapel
3. a. Perbedaan sampel besar dan sampel kecil
4. a. Sampel
5. a. Keterangan tambahan
6. c. Cukup luas
7. b. Analisis fungsi prakiraan bisnis terhadap kinerja keuangan
8. b. Penggunaan program komputer  yang dirancang secara tepat akan berpengaruh secara positif terhadap pengembangan sistem kerja
9. b. Mengendalikan
10. a. Apakah pengaruh politik terhadap prekonomian nasional
11. a. Membuktikan

II.
1. a. Kuantatif
2. a. Induktif
3. b. Penilaian
4. b. Objektif
5. c. Persuasif

  III.

Topik: upaya meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran dengan metode yang tepat dalam keluarga

Tujuan: membuktikan dengan metode belajar yang tepat dapat menumbuhkan minat belajar siswa

Tesis: penggunan metode belajar yang baik ditambah kesabaran para orang tua dapat membuat minat belajar anak meningkat

Kerangka karangan:
1.      Pengertian
1.1  pengertian minat
1.2  pengertian pembelajaran
2.      faktor mempengaruhi minat belajar
2.1  faktor internal:
a.      aspek jasmani dari individu
b.      aspek psikologis anak
2.2  faktor eksternal:
a.      keluarga
b.      lingkungan sekolah
c.       lingkungan masyarakat
3.      faktor menumbuhkan minat belajar:
3.1  mencari minat belajar anak
3.2  mengikuti perkembangan anak
4.      macam-macam metode menumbuhkan minat belajar
4.1  metode debat
4.2  metode roleplaying
4.3  metode pemecahan masalah

latar belakang
            pada jaman sekarang di era globalisasi banyak sekali kegiatan-kegiatan yang dapat mengganggu minat belajar anak. Sehingga banyak anak yang dapat prestasi kurang memuaskan.

Dapat dikatakan bahwa dengan terpenuhinya minat seseorang akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan batin yang dapat menimbulkan motivasi. S.C. Utami Munandar (1985:11 )menyatakan bahwa minat dapat menjadi juga kekuatan motivasi. Prestasi seeorang selalu dipengaruhi minat dan kebiasaan sehari-hari. Minat dan kebiasan yang sering dilakukan akan terbentuk pola hidup yang tidak dapat ditinggalkan selama hidupnya.

            Dengan demikian diperlukan faktor pendukung bagi seseorang untuk meningkatkan minat belajar dalam kehidupanya tiap-tiap hari. Salah satunya dengan mengenali kesengan anak tersebut, bisa dilihat melalui hobi. Namun dalam praktiknya tidaklah mudah untuk dilakukan.. Disamping itu minat belajar tidak mudah untuk dibentuk, karena setiap anak memiliki daya kreativitas dan minat yang berbeda-beda.

            Berdasarkan pengalaman penulis, pada saat pembelajaran berlangsung siswa kurang bergairah dalam mengikuti pelajaran. Hanya sebagian kecil saja siswa yang bisa memahami dan mengerjakan tugas dengan semangat. Sebagian besar siswa mengerjakan tugas yang diberikan dengan perasaan terpaksa atau takut. Hal ini menyebabkan tugas yang diberikan hasilnya kurang memuaskan sehingga terkesan asal jadi. Jika mereka ditanya, alasannya mereka tidak mempunyai bakat,

1. Pengertian
1.1 Minat
            Minat sering dihubungkan dengan keinginan atau ketertarikan terhadap sesuatu yang datang dari dalam diri seseorang tanpa ada paksaan dari luar. The Liang Gie (1994:28) mengungkapkan bahwa minat berarti sibuk, tertarik, atau terlibat sepenuhnya dengan suatu kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan itu. Menurut Slameto (dalam Djaali 2006:121) minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Sedangkan menurut Crow and Crow (dalam Djaali 2006:121) mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.

1.2 Belajar
            Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang belajar, pada umumnya mereka memberikan penekanan pada unsur perubahan dan pengalaman. Menurut Witherington (dalam Sukmadinata 2007:155) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan. Crow and Crow (dalam Sukmadinata 2007:155) mengemukakan bahwa belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru. Sedangkan menurut Hilgar (1962:252) menjelaskan bahwa belajar adalah suatu proses di mana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respon terhadap sesuatu situasi.


2. Faktor Mempengaruhi Minat Belajar
2.1 Faktor Internal
          A.  Aspek jasmaniah, mencakup kondisi fisik atau kesehatan jasmani dari individu siswa. Kondisi fisik yang prima sangat mendukung keberhasilan belajar dan dapat mempengaruhi minat belajar. Namun jika terjadi gangguan kesehatan pada fisik terutama indera penglihatan dan pendengaran, otomatis dapat menyebabkan berkurangnya minat belajar pada dirinya.

          B. Aspek Psikologis (kejiwaan), menurut Sardiman (1994:44) faktor psikologis meliputi perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, bakat,dan motif. Pada pembahasan berikut tidak semua faktor psikologis yang dibahas, tetapi hanya sebagian saja yang sangat berhubungan dengan minat belajar .

1.2 Faktor Eksternal
            A.Keluarga, meliputi hubungan antar keluarga, suasana lingkungan rumah, dan keadaan ekonomi keluarga. 
B. Sekolah, meliputi metode mengajar, kurikulum, sarana dan prasarana belajar, sumber-sumber belajar, media pembelajaran, hubungan siswa dengan temannya, guru-gurunya dan staf sekolahserta berbagai kegiatan kokurikuler. 

C. Lingkungan masyarakat, meliputi hubungan dengan teman bergaul, kegiatan dalam masyarakat, dan lingkungan tempat tinggal.

3. Faktor Menumbuhkan Minat Belajar
3.1 Mencari Minat Belajar Anak
            Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada suatu subyek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang telah ada. Menurut Tanner and Tanner (1975) menyarankan agar para pengajar berusaha membentuk minat-minat baru pada siswa. Hal ini bisa dicapai melalui jalan memberi informasi pada siswa tentang bahan yang akan dismpaikan dengan menghubungkan bahan pelajaran yang lalu, kemudian diuraikan kegunaannya di masa yang akan datang. Roijakters (1980) berpendapat bahwa hal ini biasa dicapai dengan cara menghubungkan bahan pelajaran dengan berita-berita yang sensasional, yang sudah diketahui siswa.

3.2 Mengikuti Perkembangan Anak
          Minat belajar akan tumbuh apabila kita berusaha mencari berbagai keterangan selengkap mungkin mengenai mata pelajaran itu, umpamanya arti penting atau pesonanya dan segi-segi lainnya yang mungkin menarik. Keterangan itu dapat diperoleh dari buku pegangan. ensiklopedi, guru dan siswa senior yang tertarik atau berminat pada mata pelajaran itu. Disamping itu perlu dilakukan kegiatan yang berhubungan dengan mata pelajaran itu, misalanya pada mata pelajaran seni rupa usahakan mengikuti apa yang harus dilakukan apakah dengan menggambar atau melukis. Dengan langkah-langkah itu minat siswa terhadap mata pelajaran itu akan tumbuh. 

4. Macam-Macam Metode Menumbuhkan Minat Belajar Anak
4.1 Metode Debat
        Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru. Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat. Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

4.2 Metode Role Playing
            Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.

4.3 Metode Pemecahan Masalah
            Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah